Memperingati Hari Bumi : Kecamatan Cibitung Gelar Festival Bank Sampah

Cibitung, Jurnalbekasi.com – Bertepatan dengan Hari Bumi yang jatuh setiap tanggal 22 April, Kecamatan Cibitung menggelar Festival Bank Sampah se-Kecamatan Cibitung.

Festival ini dilengkapi kegiatan seminar dan sosialisasi mengenai pengelolaan sampah untuk meningkatkan peran masyarakat dalam menjaga lingkungan dan mengembangkan perekonomian berbasis pemanfaatan sampah rumah tangga.

Kegiatan yang digelar di halaman Kantor Kecamatan Cibitung pada 22/4/2025 ini diikuti oleh enam desa dan satu kelurahan dengan menampilkan kerajinan tangan berbahan dasar sampah daur ulang sebagai bentuk komitmen terhadap lingkungan yang bersih dan lestari.

Tampak hadir juga dalam kegiatan tersebut Wakil Bupati Bekasi Asep Surya Atmaja, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bekasi Budi Muhammad Mustafa, Ketua TP PKK Kecamatan Cibitung Puji Encun Sunarto, Narasumber Dr. Ir. M Satori, MT.,IPU, Ketua PMI Bapak Drs. H. Akhmad Kosasih beserta jajaran, Ketua Baznas Kabupaten Bekasi H. Aminullah, SE, Kepala Desa dan Lurah Se- Kecamatan Cibitung, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bekasi, Ketua Forum Komunikasi Bank Sampah Cibitung (FKBSC), Fitri Unariah, Perwakilan Bank BRI, Perwakilan PT Hyundai, PT Cocacola dan Auto2000

Dalam sambutannya Wakil Bupati Bekasi, Asep Surya Atmaja sangat mengapresiasi Festival Bank Sampah yang diadakan di Kecamatan Cibitung untuk memperingati Hari Bumi 2025.
Dalam momen itu Wakil Bupati Bekasi, juga mengunjungi langsung beberapa stan yang menampilkan barang kerajinan yang dibuat dari sampah rumah tangga yang didaur ulang.

Menurut Wakil Bupati, “Saya bersyukur dapat hadir di Festival Bank Sampah dan Sosialisasi Persampahan hari ini”. Dia berharap tempat pembuangan sampah akan ada di setiap desa dan di tingkat kecamatan di masa depan.

Beliau menekankan betapa pentingnya kesadaran masyarakat tentang bagaimana menangani sampah sebagai bagian dari tanggung jawab bersama. Menurutnya, upaya pemilahan sampah dari rumah tangga membantu ekonomi masyarakat dan mengurangi beban TPA Burangkeng.

Kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan harus dimulai dari diri kita sendiri dan lingkungan kita yang paling dekat. Menurutnya, program bank sampah ini merupakan tindakan konkret yang membantu mengurangi jumlah sampah yang dikirim ke tempat pembuangan sampah sekaligus memberdayakan masyarakat dari segi sosial dan ekonomi.

Sementara itu, secara terpisah Budi Muhammad Mustafa, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bekasi, menyatakan bahwa DPRD telah menyelesaikan pembahasan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah dan berharap dapat disetujui sebagai Perda dalam waktu dekat. Untuk menerapkannya, setiap kecamatan harus memiliki bank sampah di pasar, dinas-dinas, dan tempat lain.

Beliau menjelaskan, “Kami di Dewan Perwakilan mendukung penuh pengelolaan bank sampah dan mendorong agar para penggiatnya di setiap tempat diberi insentif.” Selain itu, dia menyatakan bahwa Kecamatan Cibitung menempati sekitar 30% dari bank sampah Kabupaten Bekasi, menjadikannya model untuk kecamatan lain dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Pada sambutannya Bapak Camat Cibitung Encun Sunarto beliau mengutarakan rasa bahagianya karena kegiatan festival bank sampah ini digelar, menurutnya semestisnya festival bank sampah kecamatan ini sudah dilaksanakan beberapa waktu yang lalu, namun dikarenakan ada beberapa pertimbangan yang membuatnya belum bisa dilaksanakan. Festival bank sampah ini mungkin hanya merupakan langkah kecil untuk menyelesaikan masalah sampah di kecamatan cibitung.

“Kami telah melakukan banyak hal untuk mengurangi jumlah sampah di wilayah kami. Saya berharap ini akan memberikan kontribusi yang signifikan untuk pengelolaan sampah di kabupaten Bekasi jika sampah sudah diolah dari tingkat rumah tangga.”

Sebagai bagian dari upaya pengelolaan sampah berbasis komunitas, Camat Cibitung Encun Sunarto mengatakan bahwa saat ini telah terbentuk 123 unit bank sampah yang tersebar di 70 RW dari 172 RW di wilayah tersebut. Pihaknya menargetkan satu bank sampah per RW. “Ini memang tantangan besar, tetapi alhamdulillah semua pihak yang terlibat dan lapisan masyarakat mendukungnya.

Selain itu, kami meminta sekolah untuk mengelola sampah mereka sendiri, Contohnya sampah kertas, sampah makanan, sampah plastik, beliau menghimbau kelak truk sampah dilarang masuk ke sekolah, akan tetapi diganti menjadi mobil pengangkut kompos
. Ia berharap setiap sekolah memiliki bank sampah sendiri karena sampah yang dihasilkan cukup tinggi.

Ia mengatakan bahwa beberapa RW di Cibitung dapat menghasilkan berbagai produk dari pengolahan sampah, seperti pupuk, kompos, kerajinan, sabun yang dibuat dengan minyak jelantah, dan eco-enzim. Produk-produk ini dapat menghasilkan nilai tambah secara finansial sekaligus menjaga lingkungan.

Di akhir beliau berharap ada mesin yang dapat mencacah dan memilah sampah di masa depan. Beliau telah berkoordinasi dengan dekan fakultas teknik Unisma tentang pengadaan mesin pencacah dan pembuat pelet.

Festival Bank Sampah Kecamatan Cibitung tidak hanya menjadi acara untuk meningkatkan pengetahuan dan penghargaan tentang pengelolaan sampah, tetapi juga menunjukkan bagaimana pemerintah, legislatif, dan masyarakat bekerja sama untuk mencapai solusi lingkungan yang berkelanjutan.

Diharapkan Kecamatan Cibitung dapat menjadi percontohan pengelolaan sampah terpadu di Kabupaten Bekasi melalui penguatan peran bank sampah di tingkat RW, dukungan regulasi dari DPRD, dan keterlibatan aktif sektor pendidikan. Diharapkan komitmen bersama ini akan mengurangi beban TPA, meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, dan menghasilkan nilai ekonomi tambahan bagi masyarakat.

Sementara itu, Ketua FKBSC Fitri Unariah mengatakan bahwa dari 102 RW di Kecamatan Cibitung, baru 72 RW yang memiliki bank sampah.

Menurutnya, target FKBSC adalah satu bank sampah per RW pada tahun 2025. Masih ada banyak pekerjaan rumah (PR), sekitar seratus bank sampah yang perlu dibuat. Salah satu masalah utama FKBSC adalah pengolahan sampah organik. Dimana pengolahan sampah organik baru sebatas di jadikan kompos, dan dijadikan pakan maggot.

Bank sampah masih melakukan pengolahan sampah organik dalam jumlah yang sangat kecil. Menurutnya, tujuan kami adalah untuk mengurangi beban Tempat Pemrosesan Sampah Terpadu (TPST) pada tahun 2025 dengan mendorong pengolahan sampah organik di tingkat RT dan RW.

Dia menyatakan bahwa FKBSC secara teratur memberikan pelatihan dan edukasi tentang pengolahan sampah organik dan anorganik kepada masyarakat.

Sejak 2017, kami telah bergerak dan memberikan pendidikan kepada masyarakat, kata Fitri.

Strategi ini telah menghasilkan pembentukan 123 bank sampah RT/RW di enam desa dan satu kelurahan Cibitung.

Hasil ini menunjukkan komitmen FKBSC untuk mengelola sampah secara berkelanjutan di Cibitung. (Nyi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *